KATA PENGANTAR

Segala puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Pemurah,  karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat saya selesaikan. Makalah ini disusun agar kita dapat memperluas wawasan kita tentang Pengaruh Pendidikan Kesetaraan bagi Anak-anak putus Sekolah.

Makalah ini dibuat dalam rangka pembelajaran mata kuliah Ilmu Sosial Dasar (softskil). Pemahaman tentang manusia dan hal – hal yang berkaitan dengannya sangat diperlukan, dengan suatu harapan suatu masalah dapat diselesaikan dan dihindari kelak, sekaligus menambah wawasan bagi kita semua.

Penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada Ibu Ira Windarti selaku Dosen Ilmu Sosial Dasar, Universitas Gunadarma.

Makalah ini,  tentunya masih jauh dari kesempurnaan, karena penyusun juga masih dalam tahap pembelajaran. Oleh karena itu arahan, koreksi dan saran, sangat penyusun harapkan. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.

Terima kasih.

Depok,14 November 2012

Fuja Restu Respati

ABSTRAKSI

Pendidikan kesetaraan adalah pendidikan non formal yang ditujukan kepada warga negara yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan formal di sekolah. Biasa dikenal dengan nama Kejar (Kelompok Belajar) Paket A untuk setara SD, Paket B untuk setara SMP, dan Paket C untuk setara SMA.

Penyelenggaraan pendidikan dilakukan melalui 2 (dua)  jalur, yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah serta memiliki tujuan.

          Paket-paket pendidikan kesetaraan dirancang untuk peserta didik yang berasal dari masyarakat yang kurang beruntung, tidak pernah sekolah, putus sekolah dan putus lanjut, serta usia produktif yang ingin meningkatkan pengetahuan dan kecakapan hidup, dan warga masyarakat lain yang memerlukan layanan khusus dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai dampak dari perubahan peningkatan taraf hidup, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Proses belajar mengajar dapat dilaksanakan di berbagai tempat yang sudah ada baik milik pemerintah, masyarakat maupun pribadi.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………….. 2

ABSTRAKSI………………………………………………………………………………………………………. 3

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………………. 4

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang ……………………………………………………………………………………………. 5

2. Batasan Masalah………………………………………………………………………………………….. 5

3. Tujuan Penyusun………………………………………………………………………………………….. 5

4. Manfaat Penyusunan…………………………………………………………………………………….. 5

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Pendidikan Kesetaraan……………………………………………………………….. 6
  2. Pengaruh Pendidikan Kesetaraan bagi Anak-anak Putus Sekolah…………………….. 7
  3. Macam – Macam Pendidikan Kesetaraan……………………………………………………… 8
    1. PAKET A……………………………………………………………………………………………. 8
    2. PAKET B……………………………………………………………………………………………. 8
    3. PAKET C……………………………………………………………………………………………. 8
    4. Sasaran Pendidikan Kesetaraan……………………………………………………………………. 8

E. . Tempat Belajar dan Kualifikasi Akademik Pendidikan Kesetaraan………………….. 9

  1. Tempat Belajar……………………………………………………………………………………… 9
  2. Kualifikasi Akademik……………………………………………………………………………. 9
  3. F.  Kendala yang Dihadapi dalam Pendidikan Kesetaraan…………………………………….. 10

BAB III

KESIMPULAN…………………………………………………………………………………………………… 14

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………… 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.    Latar belakang

Dalam upaya untuk menuntaskan program wajib belajar 9 tahun, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai macam kebijakan. Salah satu kebijakan yang memberi kesempatan seluas-luasnya bagi warga masyarakat untuk tetap mengikuti pendidikan adalah salah satu sistem peralihan program atau disebut multientry-multiexit. Program multientry-multiexit adalah suatu kebijakan untuk melakukan alih program atau tempat belajar, dari pendidikan formal ke pendidikan nonformal atau sebaliknya, atau dari pendidikan in-formal ke pendidikan nonformal, atau antar program penyelenggara pendidikan dalam program pendidikan yang sejenis.

2.     Batasan Masalah

–          Menerangkan Pendidikan Kesetaraan saja, dalam arti tidak menerangkan pendidikan formal.

–          Sumber yang didapat hanya berdasarkan jelajah internet.

3.     Tujuan Penyusun

–         Pembaca dapat memahami tentang Pendidikan Kesetaraan.

4.     Manfaat Penyusunan

Manfaat makalah ini secara teoritis adalah dapat digunakan sebagai referensi untuk melakukan penulisan-penulisan ilmiah kembali tentang Pendidikan Kesetaraan terutama tentang pengaruhnya bagi anak – anak putus sekolah. Manfaat secara praktis makalah ini adalah dapat memperkenalkan tentang Pendidikan Kesetaraan.

BAB II

PEMBAHASAN

A.   Pengertian Pendidikan Kesetaraan

Pendidikan kesetaraan adalah pendidikan non formal yang ditujukan kepada warga negara yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan formal di sekolah. Biasa dikenal dengan nama Kejar (Kelompok Belajar) Paket A untuk setara SD, Paket B untuk setara SMP, dan Paket C untuk setara SMA. Ada juga Program Keaksaraan Fungsional (KF) untuk melayani warga yang buta huruf.

Pendidikan kesetaraan dengan slogan “Menjangkau yang tidak terjangkau” berupaya memberikan layanan pendidikan bagi warga yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan formal dengan berbagai alasan. Ada anak usia sekolah yang putus sekolah karena kendala biaya, ada juga orang dewasa yang sudah bekerja, dan berbagai latar belakang yang lain.

Dalam pendidikan kesetaraan selain diberikan materi ilmu pengetahuan juga diberikan materi kecakapan hidup (life skill). Diharapkan dengan adanya kecakapan hidup ini warga belajar akan mampu mandiri dan mampu menciptakan lapangan usaha bagi diri mereka sendiri. Adapun kecakapan hidup yang diberikan tergantung pada karakteristik tempat kegiatan pembelajaran berlangsung. Kecakapan hidup ini bisa berupa perbengkelan, kerajinan tangan, peternakan maupun pertanian.

Pelaksanaan pembelajaran untuk pendidikan kesetaraan tersentral dalam PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang ada di setiap Kecamatan. PKBM ini bisa membawahi beberapa kejar yang ada di masing-masing desa dalam kecamatan tersebut. PKBM memberilan layanan pendidikan kepada masyarakat dimulai dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), KF (Keaksaraan Fungsional), Paket A, Paket B, Paket C, dan KBU (Kelompok Belajar Usaha). Selain itu sebuah PKBM juga dilengkapi dengan TBM (Taman Bacaan Masyarakat).

B.   Pengaruh Pendidikan Kesetaraan bagi Anak-anak Putus Sekolah

Dalam rangka pencapaian tujuan Pendidikan Nasional dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan dilakukan melalui 2 (dua)  jalur, yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Sebagaimana dijelaskan dala Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah memiliki tujuan:

  1. Melayani warga belajar supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini mungkin dan sepanjang hayatnya guna meningkatkan martabat dan mutu pendidikannya.
  2. Membina warga belajar agar memiliki pengetahuan,keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkann ke tingkat / jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
  3. Memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi dalam jalur pendidikan sekolah.

Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan (UU No 20/2003 Sisdiknas Pasal 26 Ayat (6) tentang Sistem Pendidikan Nasional. Paket-paket pendidikan kesetaraan dirancang untuk peserta didik yang berasal dari masyarakat yang kurang beruntung, tidak pernah sekolah, putus sekolah dan putus lanjut, serta usia produktif yang ingin meningkatkan pengetahuan dan kecakapan hidup, dan warga masyarakat lain yang memerlukan layanan khusus dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai dampak dari perubahan peningkatan taraf hidup, ilmu pengetahuan dan teknologi.

C.   Macam – Macam Pendidikan Kesetaraan

1. PAKET A :

–          Belum menempuh pendidikan di SD, dengan prioritas kelompok usia 15-44 tahun,

–           Putus sekolah dasar,

–          Tidak menempuh sekolah formal karena pilihan sendiri,

–           Tidak dapat bersekolah karena berbagai faktor (potensi, waktu, geografi, ekonomi, sosial dan hukum, dan keyakinan).

2. PAKET B :

–           Lulus Paket A/ SD/MI, belum menempuh pendidikan di SMP/MTs dengan prioritas kelompok usia 15-44 tahun,

–          Putus SMP/MTs,

–          Tidak menempuh sekolah formal karena pilihan sendiri,

–          Tidak dapat bersekolah karena berbagai faktor (potensi, waktu, geografi, ekonomi, sosial dan hukum, dan keyakinan).

3. PAKET C :

–           Lulus Paket B/SMP/MTs,

–           Putus SMA/M.A, SMK/MAK,

–          Tidak menempuh sekolah formal karena pilihan sendiri,

–          Tidak dapat bersekolah karena berbagai faktor (potensi, waktu, geografi, ekonomi, sosial, hukum dan keyakinan).

D.   Sasaran Pendidikan Kesetaraan

Berikut ini adalah sasaran Pendidikan Kesetaraan, yaitu :

  1. Kelompok masyarakat usia 15 – 44 yang belum tuntas wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.
  2. Kelompok masyarakat yang membentuk komunitas belajar sendiri dengan flexi learning seperti komunitas sekolah rumah atau komunitas e- learning.
  3. Penduduk yang terkendala ke jalur formal karena berbagai hal berikut:

–         Potensi khusus seperti pemusik, atlet, pelukis dll,

–          Waktu seperti pengrajin, buruh, dan pekerja lainnya,

–         Geografi seperti etnik minoritas, suku terasing dan terisolir,

–         Ekonomi seperti penduduk miskin dari kalangan petani, nelayan, penduduk kumuh dan miskin perkotaan, pekerja rumah tangga, dan tenaga kerja wanita,

–         Keyakinan seperti warga pondok pesantren yang tidak menyelenggarakan pendidikan formal (madrasah), bermasalah sosial/hukum seperti anak jalanan, korban Napza, dan anak Lapas.

 E.    Tempat Belajar dan Kualifikasi Akademik Pendidikan   Kesetaraan

1. Tempat Belajar

Proses belajar mengajar dapat dilaksanakan di berbagai tempat yang sudah ada baik milik pemerintah, masyarakat maupun pribadi, seperti Pusat Pelatihan, balai desa, tempat peribadatan, gedung sekolah, rumah penduduk dan tempat-tempat lainnya yang layak. Sementara penyelenggaraan dilakukan oleh satuan-satuan PNF (Pendidikan Non Formal) seperti:

–          Pusat kegiatan Belajar Masyakat (PKBM),

–          Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Kelompok Belajar,

–          Organisasi keagamaan, Pusat Majelis Taklim, Sekolah Minggu, Pondok Pesantren,

–          Organisasi sosial Kemasyarakatan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Yayasan badan hukum dan usaha,

–          Unit Pelaksana Teknis (UPT), Diklat di departemen-departemen lain.

2. Kualifikasi Akademik

Kualifikasi akademik untuk Pendidikkan Kesetaraan adalah sebagai berikut:

–          Pendidikan minimal SPG/SGO/Diploma II dan yang sederajat untuk Paket A dan Paket B, dan Diploma III untuk Paket C.

–          Guru SD/MI untuk Paket A, guru SMP/MTs untuk Paket B dan guru SMA/M Aliyah untuk Paket C.

–           Tenaga lapangan Dikmas untuk latar belakang jurusan pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran.

–          Kyai, ustadz di pondok pesantren dan tokoh masyarakat dengan kompetensi yang sesuai dengan pelajaran yang berkaitan.

 

 F.    Kendala yang Dihadapi dalam Pendidikan Kesetaraan

Faktor-faktor yang paling sering mempengaruhi kegagalan mereka melanjutkan pendidikan formalnya antara lain yang paling signifikan adalah faktor ekonomi. Oleh karena itulah faktor ekonomilah yang lebih mereka perhatikan dari pada pendidikan. Pada saat melaksanakan proses belajar ini juga sarat dengan menghadapi berbagai kendala seperti warga belajar yang bermalas-malasan. Kendala lainya adalah masalah cuaca yang kurang bersahabat. Terutama sekali saat-saat musim penghujan. Pada musim penghujan biasanya warga belajar malas keluar rumah untuk diajak belajar.
Untuk memberikan semangat (motivasi) kepada warga belajar agar tetap senang belajar, maka pengelola program pendidikan kesetaraan diharapkan juga mendirikan Taman bacaan masyarakat (TBM), yaitu merupakan sarana belajar bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dan mengembangkan pengetahuan guna memenuhi minat dan kebutuhan belajarnya yang bersumber dari bahan bacaan dan bahan pustaka lainnya. Ini semacam perpustakaan mini dan tersebar untuk menjangkau masyarakat yang jauh dari layanan perpustakaan. Ada dua sasaran prioritas utama sasaran pendirian taman bacaan masyarakat, pertama untuk peningkatan minat baca masyarakat dan kedua untuk memelihara kemampuan keaksaraan masyarakat. Disamping itu, diharapkan keberadaan TBM bisa menjadai tempat berkumpul warga masyarakat untuk sekedar ngobrol mempererat silaturahim tukar informasi untuk memperkaya wawasan. Dengan demikian TBM pun bisa berfungsi sebagai ruang publik untuk melakukan sosialisasi diri, termasuk mempromosikan/mengenalkan program-program pendidikan nonformal kepada masyarakat.

Dalam Pelaksanaan Program Paket A dan Paket B, berbagai permasalahan yang paling berat dihadapi, diuraikan sebagai berikut:

1.      Warga belajar

Permasalahan yang berkaitan dengan warga belajar adalah:

a)      Lokasi tempat tinggal warga belajar saling berjauhan sehingga sulit mendapatkan satu kelompok sebanyak 40 orang warga belajar,

b)      Latar belakang sosial ekonomi warga belajar lemah sehingga frekuensi kehadirannya sangat rendah,

c)      Warga belajar menjadi pencari nafkah keluarga, mereka hanya belajar kalau waktu mengizinkan,

d)     Motivasi belajar rendah, mereka berpendapat tanpa belajarpun mereka sudah mendapatkan uang.

2.      Tutor

Tugas tutor bukanlah mengajar tetapi membimbing warga belajar dalam memahami materi pelajaran, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu diperlukan tutor yang paham akan masalah Pendidikan.
Masalah yang menghambat pelaksanaan Paket A, B dan C adalah:

a)      Sulit mendapatkan tutor yang memiliki latar belakang keguruan, khususnya tutor IPA dan Bahasa Inggris,

b)      Honorarium yang diterima tutor tidak memadai,

c)      Usaha peningkatan kemempuan Tutor tidak merata, banyak Tutor yang tidak pernah ditatar dan tempat tinggal Tutor jauh dari warga belajar.

Seorang Tutor untuk mampu melaksanakan tugasnya dengan baik seharusnya dilengkapi dengan kebiasaan seperti:

a)      Kemampuan mengidentifikasi kebutuhan belajar

b)      Kemampuan menyusun program prmbelajaran yang berorientasi pada tujuan yang diinginkan warga belajar

c)      Kemampuan berkomunikasi agar mampu menggunakan berbagai cara alam pembelajaran

d)     Kemampuan menjalankan program dalam arti kemampuan mengorganisir program

e)      Kemampuan menilai hasil program. Dengan demikian Tutor harus mengalami standar yang harus dicapai pada setiap kurun waktu

f)       Kemampuan menggunakan hasil penilaian dalam usaha memperbaiki program di masa mendatang.

3.      Prasarana dan Sarana

1. Prasarana

Permasalahan prasarana belajar yang dapat dipertimbangkan sebagai penyebab hambatan belajar antara lain:

–          Belum memiliki gedung sendiri, tetapi masih memanfaatkan Balai Desa; gedung sekolah yang kosong dan tempat pertemuan lainnya, sehingga tidak jarang meminjam tempat tinggal tokoh masyarakat atau rumah warga belajar yang luas. Dengan dilembagakannya PKBM sebagai tempat segala kegiatan yang ada di masyarakat, maka dapat digunakan oleh warga belajar Kejar Paket P, dan B Setara,

–          Lokasi gedung sekolah jauh dari tempat tinggal warga belajar, dan

–          Fasailitas belajar kurang memadai.

2. Sarana

Sarana belajar sebagai media yang digunakan untuk belajar membawa berbagai hambatan antara lain:

–          Jumlah modul terbatas, yaitu 1 modul untuk 3 orang warga belajar, yang seharusnya 1 modul untuk tiap warga belajar, akibatnya mereka sukar untuk dapat melaksanakan proses belajar mandiri,

–          Terbatasnya jumlah buku yang dapat menambah wawasan warga belajar,

–          Kurang dimanfaatkannya sarana belajar lokal atau yang tersedia di lokasi kegiatan.

 4.       Pehabtanas.

Secara konseptual penilaian terhadap warga belajar Paket A, B dan C dilaksanakan dalam bentuk evaluasi proses pembelajaran modul, evaluasi sekelompok modul dan penilaian hasil belajar tahap akhir (Pehabtanas). Secara umum langkah penilaian tersebut di lapangan sudah dilaksanakan, khusus untuk Perhabnatas materi pelajaran yang diujikan meliputi PPKn, Bahasa Indonesia, IPA, IPS dan matematika untuk Paket A dan ke lima bidang studi tersebut ditambah Bahasa Inggris untuk Paket B. pelaksanaan pengembangan soal dan pemerikasaan hasil ujian tidak dikelola oleh perencana dan pelaksana pembelajaran.

Pelaksanaan Perhabnatas masih menghadapi beberapa masalah, antara lain:

–          Terbatasnya jumlah tenaga yang handal yang mampu menangani Perhabnatas;

–          Pendaftaran peserta ujian yang sering terlambat;

–          Pendaftaran peserta tidak sekaligus, akibatnya sering berbeda antara data yang dikirim oleh daerah dengan data yang diterima di pusat;

–          Data peserta yang sering berubah-ubah, akibatnya menghambat dalam membuat pengumuman kelulusan;

–          Longgarnya pengawasan, akibatnya di beberapa daeah ditemukan adanya kesenjangan pelaksanaan;

–         Terlambatnya pengumuman akibat terlambat pengembalian Lembar Jawaban Kerja (LJK) dari daerah ke pusat, yang dapat mengakibatkan kurang kepercayaan peserta pada sistem yang dibangun.

BAB III

KESIMPULAN

Pendidikan Kesetaraan sangat penting bagi anak-anak putus sekolah agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkann ke tingkat / jenjang pendidikan yang lebih tinggi guna meningkatkan martabat dan mutu pendidikannya.

DAFTAR PUSTAKA

http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/14/mengenal-pendidikan-kesetaraan/

http://arminaven.blogspot.com/2011/06/pendidikan-kesetaraan-program-kejar.html

http://doubleyuw-clover.blogspot.com/2012/11/makalah-isd-i-kualitas-lulusan.html

Iklan